Sementara itu menurut Fikrul Hanif Sufyan, penulis buku sejarah ini menyampaikan bahwa dalam menulis buku tentang Kauman menjadi beban sejarah baginya,
Sebab fakta sejarah yang selama ini ditemukan hanyalah dari cerita-cerita para orang tua dan juga para santri dari para pendiri Pondok Pesantren Ini.
“Buku ini membahas tentang perjalanan sejarah berdirinya Kulliyatul Muballighien Kauman. Saya menemukan fakta sejarah di sebuah media cetak Sumatra.
Dalam tulisan tersebut dinyatakan bahwa Pondok Pesantren yang dahulunya bernama Tabligh School berdiri pada tanggal 5 April 1928. Dari situ saya mencoba mencari benang merah selama tiga tahun lamanya, hingga buku ini selesai tahun ini,” kisahnya.
Dikatakannya juga bahwa awal sekolah ini adalah hotel Marapi yang dimiliki oleh orang Belanda.
Kemudian hotel itu dibeli untuk dijadikan sebagai pusat pendidikan menggantikan rumah Inyiak Rasul yang menjadi awal mula pusat pergerakan Muhammadiyah yang hancur pada saat gempa Padang Panjang.
Sehingga Rasyid Idris Dt. Sinaro Panjang, pioner administrasi Kauman Muhammadiyah yang namanya di abadikan menjadi ruas jalan medapatkan tempat di Kulliyatul Muballighien.
“Bekas hotel yang dibeli inilah, guru-guru persyarikatn membuat sekat-sekat untuk kelas.















