Dimana murid- murid yang datang dari utusan berbagai daerah Sumani, Agam, Payakumbuh, Pariaman dengan dengan segala keterbatasan tanpa melihat kondisi sekolah.
Semangat ini kemudian yang melatari semangat perjuangan Buya HAMKA kembali memimpin madrasah sekembalinya dari Makassar,” bebernya.
Buku Sejarah Kulliyatul Muballighien Padang Panjang di Luncurkan
Disamping itu Deni Asyari selaku direktur Penerbit Suara Muhammadiyah yang ikut dalam kegiatan ini mengatakan bahwa buku “Kulliyatul Muballighien dari Padang Panjang Untuk Indonesia” yang ditulis oleh Fikrul Hanif Sufyan ini menjadi rangkaian yang terhubung dengan buku yang ditulis oleh Taufik Abdullah, bahwa semuanya berawal dari Kauman Padang Panjang. Menjadi pencerahan dan menginspirasi banyak orang.
“Apresiasi terhadap buku ini, karena potensi khasanah sejarah khususnya Muhammadiyah di Sumatera Barat yang terpendam, Ini penting untuk diperkenalkan kepada generasi selanjutnya. Bicara sejarah, adalah bicara inspirasi masa depan.
Buku ini bicara mengenai semangat pembaharuan generasi Islam. Kita dari penerbit berharap, agar buku ini bisa menjadi buku wajib bagi warga Muhammadiyah. Banyak gubahan-gubahan terjadi di negri ini yang lahir dari Pondok Pesantren Kauman Padang Pannjang,” katanya.
Selanjutnya menurut Deni Asyari, tantangan Muhammadiyah saat ini berada ditahap abad kedua. Kalau dulu tantangan kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sekarang tantangan itu lebih meningkat ketingjat revolusi tekhnologi yang mana hal itu membuat era desrupsi semakin menjadi-jadi.
“Semoga Kauman tetap konsisten dalam gerak dakwah Muhammadiyah. Gerakan literasi yang masif menjadikan Kulliyatul Muballighien semakin dikenali dan diminati oleh orang-orang. Sebagai inspirasi untuk dipahami bagaimana perjuangan Kauman dalam menggelorakan semangat berfastibighul khairat,” tutupnya.
Turut hadir pada kesempatan itu, walikota Padang Panjang yang di wakili oleh staf ahli bidang ekonomi dan pembangunan, kepala bidang perpustakaan dan kearsipan kota Padang Panjang, kepala pondok pesantren se Padang Panjang, penulis novel Rinai Kabut Singgalang, Muhammad Subhan, Ketua Jurusan Teater, Dr. Sulaiman Juned, serta para praktisi pendidikan dan muballigh se Padang Panjang, Batipuh, X Koto.















